soewarsomandalaputra

Senin, 23 Februari 2015

Keadilan

Hal ini membuat saya berpikir: apa sih sebenarnya
keadilan itu?
Apakah keadilan berarti sama?

Jika saya sama dengan anda, maka berarti adil?
Ini adalah maksud yang sering di”cantol”kan
dengan kata keadilan.

Sebenarnya kita memiliki kata khusus untuk ini yang disebut “kebersamaan”,
seharusnya kata ini yang digunakan jika kita
mengemukakan konsep keadilan yang sama.

Apakah keadilan berarti perbedaan? Jika memang kita
berbeda, tentunya keadilan adalah perlakukan yang
berbeda sesuai dengan perbedaannya.
Perlakuan lebih
perlu diberikan kepada kaum minoritas, sedangkan
yang sudah mayoritas yaa biarkan saja. Yang kurang
dilebihkan, yang lebih yaa dikurangkan (berbeda khan perlakuannya) Hakikat arti keadilan seperti ini sebenarnya mirip
dengan yang kedua, yaitu ingin sama. kita harus
diperlakukan berbeda supaya sama. Padahal
perlakuan berbeda itu khan udah tidak sama, jadi
pengin adil dengan cara tidak adil? Apakah keadilan
berarti “pada tempatnya”? Ada lagi yang saya sering temui, pendapat yang menyatakan bahwa
keadilan itu yaa harus dilihat “pada tempatnya”/
konteksnya.

Adil bisa berarti sama, bisa berarti beda.
Problemnya adalah kalau udah bicara konteks, berarti
tambah persepsi. Kalau diawal hanya persepsi akan
arti keadilan berbeda, sekarang ditambah persepsi akan konteksnya. Yaa lumayan lah, dengan konteks, paling tidak
mencoba untuk saling mengerti. Hanya saja kalau udah
saling mengerti apakah berarti akan saling mau
mengorbankan kepentingan? Karena mengerti dan
berkorban itu adalah 2 bukit yang terkadang masih
memiliki jalan panjang.

Pengertian Keadilan pada hakikatnya adalah
memperlakukan seseorang atau pihak lain sesuai
dengan haknya. Yang menjadi hak setiap orang adalah
diakuai dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan
martabatnya, yang sama derajatnya, yang sama hak
dan kewajibannya, tanpa membedakan suku, keturunan, dan agamanya. Sila kelima pada Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia. Pada sila ini dijelaskan bahwa
keadilan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Semua
rakyat memiliki keadilan yang sama, jika salah
katakana salah dan jika benar katakana benar. Tetapi
kondisi sekarang telah berubah, katakana salah bagi yang tidak memiliki uang dan selamatkan yang salah
dari jerat hokum karena dia memiliki uang.
Ini adalah masalah terbesar bangsa, hal seperti ini
sudah mendarah daging di Indonesia. Tidak jelas kapan
semua ini terjadi, semuanya mengalir begitu saja
sampai dengan saat ini yaitu puncak dari ketidakjelasan ideologi bangsa ini. apakah Pancasila masih menjadi akar dari bangsa ini?
ataukah hanya menjadi sejarah? Semua ada ditangan
rakyat, pemuda. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga,
lingkungan dan organisasi, jadikan Pancasila sebagai
akar kekuatan diri sendiri, keluarga, lingkungan dan
organisasi. Dari penjelasan diatas jelas bahwa Negara kita penuh
dengan kecurangan dan keserakahan. Kita sebagai
penerus bangsa harus menunjukkan sikap jujur sejak
dini sejak duduk dibangku sekolah dengan sikap tidak
menyontek, tidak membolos, karena semua itu adalah
sikap tidak bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang tua yang telah banyak memberikan biaya untuk
kita sekolah.
Dibalik kebaikan pasti ada keburukan dibalik sikap jujur
pasti ada kecurangan. Kecurangan adalah sifat
mendapatkan sesuatu dengan segala cara baik halal
maupun haram. Kecurangan dalam kehidupan adalah lawan dari sebuah kejujuran.
Manusia bersikap curang untuk memperoleh kepuasan
tanpa memikirkan dampak bagi dirinya maupun orang
lain.

Kamis, 05 Februari 2015

Kata kata mutiara ulama

#0000Ff
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّ ﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّ ﺣِﻴْﻢِ
Assalamualaikum Wr.Wb.
Ya Akhi wa Ukhti…
☻☻☻Sempatkan waktu anda untuk membaca kata-kata mutiara
atau ilmu dari guru kita, kang Ustadz Arif Budiman. Berikut
ilmu dari beliau… ☻☻☻
• Ruh, Hati, Jiwa dan Akal adalah bagian kehalusan ruhani
dalam diri manusia, ia bagaikan cermin, jika ia bersih, maka
ia akan tampak sempurna…
• Tebar pesona lah kepada Allah, jika kita ingin dicintai kita
harus mencintai dengan tulus dan ikhlas dalam ibadah
kepadaNya.. Selamat beribadah.
• Diantara tanda matinya hati ialah tidak adanya rasa sedih
atas ibadah yang kau lewatkan dan tidak adanya rasa
menyesal atas segla kesalahan yang dilakukan…
• Pada setiap desahan nafas yang dihembuskan, terdapat
takdir Allah yang telah ditetapkan, maka bersyukurlah
kepadaNya…
• Meraka yang beriman, dengan selalu mengingat Allah, hati
mereka menjadi tentram, dan ingatlah hanya mengingat Allah
hatimu menjadi tentram, yuk kita dzikir…
• Barang siapa yang tidak mendekat untuk taat kepada Allah,
sementara Allah telah memberi nikmat kepadanya, maka dia
akan diseret untuk mendekat kepadaNya dengan ujian-
ujianNya…
• Berusaha untuk mencari kekurangan yang tersembunyi
dalam diri lebih baik dari pada berusaha menyibak tirai ghaib
yang terhijab dalam diri kita…
• Hidup adalah ibadah, dunia adalah ladangnya. Barang siapa
yang taat kepada Allah dan Rasul ketika di dunia, maka ia
telah mempersiapkan kemenangan di akhirat…
• Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya karim, demi kebesaran
Nama dan AgamaMu serta kekuasaanMu, idzinkan hamba
memohon rahmat dan ridhoMu…
• Sembuhkanlah hambamu yang sedang sakit dan
mudahkanlah segala ujian dan urusannya, luaskanlah
rizkinya, bimbing, lindungi dan sayangilah mereka…
• Jadikan mereka hambamu yang beriman dan bertakwa,
selamatkan di dunia dan bahagiakanlah mereka di akhirat,
Amiin…
• Raihlah cinta Allah dengan ilmu dan dzikir, karena ilmu
adalah cahaya hidup dan dzikir adalah bekal untuk sampai
kehadiratNya, lakukanlah Lilahita’ala…
• Ketahuilah, dunia adalah kekasih nafsu/Jiwa, akhirat dan
surga adalah kekasih hati, dan Allah adalah kekasih Nurani,
maka renungkanlah…
• Apabila Allah mencintaimu maka Dia akan mengujinya. Jika
kamu sabar dan rela dengan ujianNya, niscaya Dia akan
mensucikanmu dan mencintaimu…
• Ya Allah, anugerahkan karuniaMu kepadaku, lindungilah aku
dengan perisaiMu dan ampunilah kekuranganku dengan
kemulian diriMu…
• Ilmu adalah cahaya, dzikir adalah bekal, barang siapa
memiliki dan menjalani keduanya karena Allah, Insya Allah,
akan sampai kepada kemuliaan-Nya…
• Akal adalah sumber ilmu, hakekat akal adalah kemuliaan,
akal laksana cahaya yang dipancarkan ke dalam hati
sehingga manusia mampu memahami sesuatu…
• Orang yang paling berat azabnya adalah orang berilmu tapi
tidak mengamalkannya, barang siapa bertambah ilmu tapi
tidak bertambah benar jalannya, maka ia semakin jauh dari
Allah…
• Orang yang tahu, tetapi ia tidak tahu bahwa ia mengetahui,
itulah orang yang tertidur, maka bangunkanlah ia…
• Orang yang tahu, dan ia tahu bahwa ia mengetahui, itulah
orag yang berilmu, maka ikutilah dia…
• Orang yang tidak tahu, tetapi ia tahu bahwa ia tidak
mengetahui, itulah orang memerlukan bimbingan, maka
ajarilah ia…
• Dan orang yang tidak tahu, namun ia tidak tahu bahwa ia
tidak mengetahui, itulah orang yang bodoh, maka
waspadalah terhadapnya…
• Ketahuilah Ulama dibagi dua golongan, Ulama dunia dan
Ulama akhirat.. maka waspadalah…
• Ulama akhirat mereka tidak terpengaruh godaan dunia
dengan mengorbankan agama, tidak menjual akhirat demi
dunia dan meraka selalu memperingati hari akhir…
• Mereka mengtahui kemuliaan akhirat dan kehinaan dunia.
Barang siapa tidak mengtahui perbedaan manfaat dan
kemudharatan dunia dengan akhirat, maka ia bukanlah
ulama…
• Serendah-rendahnya orang Alim adalah ia lebih
menyenangi hawa nafsunya dari pada mencintai Allah, maka
Allah haramkan ia untuk merasakan nikmat bermunajat
kepada Allah

Rabu, 04 Februari 2015

Ruang hampa

Hari itu, aku tertatih. Tidak jelas aku sedang berada di mana. Samar-samar seperti di tengah-tengah antara sorga dan neraka. Tunduk, tengadah, bahkan sesekali kepalaku menengok ke arah kanan, kiri dan belakang. Aku berdiri di tengah-tengah dimensi hidup penuh khayal. Kepalan tanganku gusar dengan urat nadi yang tampak tegang. Dunia itu merogok dalam-dalam tenggorokanku sampai ke hulu hati, nafas sesak, denyutan pompa darah di jantungku keras, lebih keras, dan semakin keras. Aku larut dalam sugesti kecemasan dan rontaan kebingungan.

Waktu itu sebuah tangan menepuk pundakku sebelah kanan. Seketika aku menoleh ke arahnya. Tampak ku lihat sesosok manusia misterius berpakaian putih, hampir mirip kakekku yang telah lama tiada. Tanpa sapa dia berkata. “Lihatlah hai anak muda, pandanglah sorga di belakangmu, begitu indah, asri, dengan hiasan bunga mawar mengitari pegunungan-pegunungan tinggi di sana. Sumber kehidupan yang bergelimang, rona-rona cahaya bintang berdansa dengan pepohonan.”

“Siapa kau kek? Apa maksud perkataanmu tadi?” sambut tanyaku.

“Apa untungnya kau tahu siapa aku, yang perlu kau tahu hanyalah, di mana tempat itu?” jawabnya tegas.

“Tapi hidupku lebih mewah dari itu kek. Aku tak perlu lagi berjalan kaki seperti mereka, aku tak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Belanda untuk menemui pamanku, aku tak perlu lagi menggenggam pinsil dan penghapus untuk menulis segala tentang kehidupan ini. Kini aku berada di titik sempurna, semua orang pun tahu, kita tak perlu lagi bersusah payah untuk mencari makan, atau untuk mencerna sepotong goreng singkong yang rasanya aneh.”

Kakek misterius itu hanya tersenyum, terpaut seraya mengejek perkataanku. Dia memang pendengar yang baik, begitu juga aku. Tak lama kemudian Ia melanjutkan kampanye konyolnya. “Baiklah anak muda, saatnya kau melihat ke depan. Lihatlah, tatap dan renungkan apa yang akan kau saksikan.” Kakek itu meluruskan telunjuknya ke arah depan dengan sorot mata yang tajam penuh makna. “Lihatlah pegunungan di sana, lihatlah langit mendung itu, musim-musim tak beraturan, predator dengan senjata bergerigi meluluh lantahkan paku bumi ini, mereka kupas tuntas keasrian alam dengan segala akal bulus dan keserakahannya, aroma menyengat dari tebaran nafsu kekuasaan, rencengan rupiah, lidah-lidah panjang yang merah, para monster yang haus darah berkeliaran di setiap penjuru rumahmu, bahak tawa mereka menunjukkan bahwa kita hanya semut kecil yang bisa di injak-injak lalu mati, merekalah pemangsa harga diri kita dengan akal bulus dan senyuman dusta juga kemunafikan, kita hanya contoh kecil dari korban kepecundangan mereka, lilitan kain belang-belang itu hanya tipuan, topeng di wajahnya pun terbuat dari bahan anti peluru, merekalah neraka, bukan sorga bagimu, aku, atau kita.” Ujarnya bernada meyakinkanku.

“Apakah aku harus peduli pada semua itu kek? Kau hanya manusia renta dan sudah bau tanah, mana mungkin kau mengerti arti kesuksesan.” Sang Kakek itu pun tak mau kalah, dia mempertahankan argumentasinya dengan terus melanjutkan atraksi ceramahnya yang semakin lama membuatku sedikit kesal.

“Aku memang sudah tua, jelas saja karena usiaku tak lebih muda darimu anak muda, aku sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun, setiap hari tugasku hanya mengawasi kalian dengan memo yang telah lusuh ini.”

“hufh…! Bicaramu seperti menunjukkan bahwa kau adalah Tuhan, jangan ngaco. Di zaman sekarang, orang yang menganggap dirinya sebagai Tuhan adalah kafir.”

Lagi-lagi ia mengelak argumentasiku yang bernada seperti tuduhan. “Orang kafir itu hanya ada pada jiwa-jiwa yang kotor, dia mampu membangkang dari apa yang dijaganya. Aku sendiripun tak pernah tahu siapa orang-orang kafir itu. Tak ada jawaban pasti, siapa orang kafir sebenarnya.” Begitu gamblangnya kakek misterius itu berujar, hampir-hampir aku kalah argumen.

Di sela-sela perang dingin itu, tiba-tiba saja pundak kiriku di tepuk oleh sebuah tangan, nampaknya dari arah belakang. Aku tercengang seketika melihat siapa yang menepuk pundakku itu. 'Siapa lagi?' pikirku saat itu.
Kini laki-laki berjubah hitam dengan kumis tipis dan jambul yang tampak seperti ujung pantopel yang aku kenakan. “Jangan dengarkan dia saudaraku, dia hanya akan menyesatkan pikiranmu saja.” Sambutnya dengan senyuman.

“Siapa lagi kau? Apa urusanmu datang kemari?” Tanyaku.

“Aku datang untuk menyelamatkanmu dari kesesatan.” Jawabnya.

“Apa maksudmu?”

“Kau punya pilihan hidup, pilih saja yang menurutmu benar.”

“Dari perkataanmu, kau cukup meyakinkan, apa yang akan kau tunjukkan padaku sebagai pembuktian bahwa perkataanmu benar soal pilihan itu?” Lanjut pertanyaanku.

“Tidak ada.”

“Lantas?”

“Hanya saja kau begitu luwes, ambil saja semuanya, kau punya keluarga yang patut kau hidupi, anak istrimu selalu menunggumu di rumah dengan harapan kau dapat memberikan mereka kejutan besar.”

Aku berpikir sejenak, memikirkan apa yang dikatakan laki-laki misterius berjubah hitam itu. Kejutan apa yang sebenarnya ia maksud. “Aku memang berkeluarga, mereka baik terhadapku, tapi sampai saat ini aku belum memberikan mereka kejutan besar itu. Dengan cara apa?”

“Apa kau merasa kekayaanmu itu sudah cukup? Itu masih belum ada apa-apanya. Coba kau lihat petinggi-petinggi negara di luar sana, mereka hidup serba berkecukupan. Hak rakyat adalah hakmu juga, ambil saja semuanya demi kau dan keluargamu, karena keluargamu lebih membutuhkanmu dibandingkan rakyatmu sendiri.”

Aku tersenyum, sedikit semangat mendengar apa yang diutarakan pemuda misterius itu. “Sekarang, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku lagi.

Pemuda berjubah hitam itu tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. “Hahahaha… mudah saja, sangat… sangat… dan sangat mudah…! Kau ambil saja uang itu, jangan pedulikan orang lain, karena belum tentu orang lainpun memperdulikanmu. Kau punya tanggung jawab besar atas keluargamu. Kau itu seorang petinggi negara ini, kau di percaya oleh kerajaanmu. Apa lagi yang kau pikirkan? Sudah, ambil saja semua harga diri dan martabat makhluk-makhluk kerdil itu, mereka sendiri tidak punya hak mengatur hidupmu.”

“Tapi akumencintai mereka, aku bisa seperti inipun berkat mereka!” Sanggahku.

“Ha ha ha…!” lagi-lagi pemuda misterius itu tertawa “Kau bisa seperti ini bukan berkat mereka, tapi berkat dirimu sendiri. Kau itu pintar, pecahan matematikapun kau selesaikan dalam hitungan detik. Cinta itu bukan ukuran seperti ilmu fisika atau kimia, dia tidak dapat di ukur. Kau bukan makan cinta, tapi nasi.” Sejenak aku berpikir kembali, kian salut penuh keheranan. Ku pikir inilah sebuah anugerah, aku mendapatkan dorongan yang hebat dan membanggakan dari seorang sahabat misterius. Untuk apa aku memikirkan liliput-liliput itu, mereka hanya makhluk kerdil tak bermoral.

Tiba-tiba kakek renta berjubah putih yang berdiri di sebelah kananku tadi menyela di tengah-tengah percakapan kami. “Hei anak muda, gunakanlah sisa hidupmu untuk menjaga dirimu sendiri juga negerimu dari jerat keserakahan. Jangan dengarkan perkataan iblis itu, dia menjerumuskanmu pada suatu kerugian yang besar. Janganlah kau beri keluargamu makanan yang bukan haknya. Karena suatu saat hak, derajat, dan martabat yang kau renggut dari rakyatmu akan membawamu pada jurang yang terjal dan dalam, serta dibawahnya terdapat bara api yang memuncahkan gelombang panas melebihi matahari.”

Sahabat misteriusku nampak gusar mendengar ceramahan Si kakek tua, lantas dia melanjutkan perkataannya dengan penuh motivasi. “Untuk apa aku menghasutmu kawan? Sama sekali tidak ada untungnya bagiku. Aku sudah kaya, hotel-hotel itu pernah jadi milikku, aku pernah jadi raja, aku sudah bosan dengan lembaran-lembaran rupiah, dan sekarang giliranmu, lanjutkanlah kekuasaanku.”

Sedikit banyak aku merasa bingung, di mana kebenaran itu. Mana yang benar dan yang salah? Nuraniku tak dapat memilih begitu saja, terlalu berat rasanya, bagai memikul seribu kubik batu di pundakku. Ku lanjutkan tanyaku pada kakek misterius berjubah putih itu. “Apa lagi yang akan kau tunjukkan padaku setelah ini, kek? Apa mungkin kau sudah kehilangan kekuatan argumenmu?” Tanyaku pada kakek berjubah putih.

Spontan sang kakek tua menjawab pertanyaanku. “Kau lihat sampah-sampah itu? Kau lihat mereka yang tidur nyenyak di atas kepedihan anak-anaknya? Perhatikanlah, di sana begitu banyak korban peperangan, demokrasi yang amburadul, provokasi merajalela, saling menggulingkan, saling menjatuhkan, saling membakar, huru-hara berpadu dengan teori rasial, mereka bukanlah dirimu, dirimu adalah pahlawan, pahlawan penolong umatmu yang telah jadi korban kehancuran negeri ini.”

“Itu bohong kawan, itu tidak ada dalam rumus hidupmu, Si tua renta itu hanya ingin mendapat keuntungan sebagai selirmu nanti, lama kelamaan dia akan menyingkirkanmu dari tahta kebenaran dan duduk di atas singgasana keserakahan.” Hasut sobat misteriusku.

Tak lama kemudian, tepat dihadapanku muncul pemandangan yang begitu mengerikan, itu duniaku, itu planet tempatku hidup. Banjir, letusan gunung merapi, longsor, gempa bumi, kelaparan, kemiskinan meraja, kesenjangan sosial, perang saudara, rasisme, anarkisme, korupsi, kolusi dan nepotisme, udara yang tercemari oleh polusi, gubahan lumpur panas, disintegrasi, dan aksi-aksi kejahatan yang semakin mengakar. Begitu miris, aku bahkan hidup di tengah-tengah roman kehancuran itu.
Aku tersadar. “Ya Tuhan…! Apa yang aku pikirkan selama ini?”
Lidahku kelu, tubuh ini pun kaku, hatiku bergetar, takut, iba dalam diriku bangkit. Kakek tua berjubah putih telah menunjukkan neraka di balik duniaku yang seakan-akan menyerupai surga. Seketika itu aku terperanjat, tersedot ke dalam lubang hitam. Warna-warni cahaya, gelap bagai rongga bawah tanah, sampai aku berpikir ‘Di mana aku?’ Kian dimensi itupun memudar. Si kakek misterius dan seorang pemuda berjubah hitam yang sempat memanggilku dengan sapaan mesranya ‘Sobat’ seketika lenyap dari pandanganku. Memoriku hilang sekejap.

Aku membuka mata, perih rasanya, seperti ada setumpukan krikil terselip di sela-sela kelopak mataku yang memerah bagai iritasi, leherku pegal terganjal oleh sandaran kursi ruang kantor yang tampak tidak asing lagi bagiku, meja kerja yang dipenuhi lembaran-lembaran rupiah yang berhamburan dari dalam koper hitam intim bersama setumpukan kertas yang berserakan tidak karuan.
Kini aku tersadar dari mimpi aneh sejam yang lalu itu, sambut renunganku sesaat mengingat apa yang aku lihat dalam bunga tidurku tadi. Ku hampiri jendela kaca lantai 4 di ruang kantorku, ku lihat duniaku dengan mata terbuka, hatiku berkata ‘Ini duniaku’.
Planet bumi tercinta yang harus ku jaga dengan segala pengorbanan jiwa raga. Mereka rakyatku, abdi yang harus aku pertanggung jawabkan atas kepercayaannya, merekalah raja tertinggi di negeri bahkan di dunia ini, akan aku genggam erat kepercayaan mereka terhadapku selama ini.
Perlahan aku menoleh ke arah meja kerjaku yang acak-acakan. Dengan segala kerendahan hati, ku urungkan niatku untuk memperkaya diri, ku kembalikan harkat, derajat, dan martabat mereka sebagai hak mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat

Minggu, 25 Januari 2015

Jauhi sikap sombong

Jauhilah Sikap Sombong
Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak
manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺑُﻌِﺜْﺖُ ﻟِﺄُﺗَﻤِّﻢَ ﺻَﺎﻟِﺢَ ﺍﻟْﺄَﺧْﻠَﺎﻕِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib
Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)
Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang
luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran
dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki
akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela.
Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian
bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak
yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus
dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong .
Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di
atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain.
Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan
memandang dirinya berada di atas orang lain.
(Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet.
Daar Ibnu Jauzi)
Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻻَ ﺗُﺼَﻌِّﺮْ ﺧَﺪَّﻙَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤْﺶِ ﻓِﻲ ﺍﻟﻸَﺭْﺽِ ﻣَﺮَﺣﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻻَ
ﻳُﺤِﺐُّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺨْﺘَﺎﻝٍ ﻓَﺠُﻮْﺭٍ {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. ” (QS. Luqman:18)
Allah Ta’ala berfirman,
ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻜْﺒِﺮِﻳﻦَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang
menyombongkan diri .” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺃَﻟَﺎ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠَﻰ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻞُّ ﻋُﺘُﻞٍّ ﺟَﻮَّﺍﻅٍ ﻣُﺴْﺘَﻜْﺒِﺮٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka?
Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar,
tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong) .“ (HR.
Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
Dosa Pertama Iblis
Sebagian salaf menjelaskan  bahwa dosa pertama kali
yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah
Ta’ala berfirman,
ﻭَﺇِﺫْ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﺍﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻷَﺩَﻡَ ﻓَﺴَﺠَﺪُﻭﺍ ﺇِﻻَّ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﺃَﺑَﻰ ﻭَﺍﺳْﺘَﻜْﺒَﺮَ
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ {34}
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka
sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
(sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang
kafir“ (QS. Al Baqarah:34)
Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada
Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah
berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya
diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari
tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali
terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada
Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at
Tauqifiyah)
Hakekat Kesombongan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam , beliau
bersabda,
ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ﻣِﻦْ ﻛِﺒْﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻥَّ
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛَﻮْﺑُﻪُ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻭَﻧَﻌْﻠُﻪُ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺟَﻤِﻴﻞٌ
ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝَ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮُ ﺑَﻄَﺮُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻏَﻤْﻂُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada
seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang
yang suka memakai baju dan sandal yang bagus? ”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan
menyukai keindahan. Sombong adalah menolak
kebenaran dan meremehkan orang lain. “ (HR. Muslim
no. 91)
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi
larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri
kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak
kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi,
II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)
Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap
al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini
diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pada hadist di atas dalam sabda beliau, “ sombong
adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan
orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan
menolak dan berpaling darinya serta tidak mau
menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni
merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang
orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya
lebih dibandingkan orang lain. ( Syarh Riyadus
Shaalihin , II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al
‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)
Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap
kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap
orang yang menolak kebenaran maka dia telah
sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh
karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima
kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para
rasul ‘alaihimus salaam .
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara
keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di
neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh
rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia
bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia
menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah
terangkan dalam firman-Nya,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺠَﺎﺩِﻟُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺀَﺍﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺳًﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺃَﺗَﺎﻫُﻢْ ﺇِﻥ ﻓِﻲ
ﺻُﺪُﻭﺭِﻫِﻢْ ﺇِﻻَّ ﻛِﺒْﺮٌ ﻣَّﺎﻫُﻢ ﺑِﺒَﺎﻟِﻐِﻴﻪِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ
ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮُ {56}
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan
tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada
mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan
hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka
sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah
perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha
Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)
Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian
al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan
akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak
mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya
tersebut.
Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki
tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul
shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa
pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali
kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya,
yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam . Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya,
dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu
Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet
Daarul Kutub ‘Ilmiyah)
Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran
adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman
Allah ‘Azza wa Jalla ,
ﻭَﻣَﺎﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻻَﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥ ﻳَﻜُﻮﻥَ
ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻼَﻻً
ﻣُّﺒِﻴﻨًﺎ {36}
“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin
perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka .” (QS. Al-
Ahzab: 36)
ﻓَﻼَ ﻭَﺭَﺑِّﻚَ ﻻَﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤَﻜِّﻤُﻮﻙَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺷَﺠَﺮَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳَﺠِﺪُﻭﺍْ
ﻓِﻲ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺣَﺮَﺟًﺎ ﻣِّﻤَّﺎ ﻗَﻀَﻴْﺖَ ﻭَﻳُﺴَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ {65}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim
terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An Nisaa’:
65)
Sombong Terhadap Makhluk
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong
terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan
merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang
bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya
lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri
sendiri membawanya sombong terhadap orang lain,
meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan
mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺑِﺤَﺴْﺐِ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻘِﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia
menghina saudaranya sesama muslim ” (H.R. Muslim
2564). ( Bahjatu Qulubill Abrar , hal 195)
Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di
antaranya adalah sombong dengan pangkat dan
kedudukannya, sombong dengan harta, sombong
dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu
dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan
kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih
dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan
tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang
memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan,
bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah
nikmat dari Allah Ta’ala . Jika Allah berkehendak,
sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-
kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak
memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong
terhadap orang lain? Wallahul musta’an.
Hukuman Pelaku Sombong di Dunia
Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai
berikut ,
ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺃَﻛَﻞَ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺑِﺸِﻤَﺎﻟِﻪِ
ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﻛُﻞْ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻚَ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﻻَ ﺃَﺳْﺘَﻄِﻴﻊُ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻻَ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ ‏» . ﻣَﺎ
ﻣَﻨَﻌَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮُ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻤَﺎ ﺭَﻓَﻌَﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻓِﻴﻪِ .
“A da seorang laki-laki makan di samping Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut
malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda,
“Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena
sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke
mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).
Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan
perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam . Dia dihukum karena
kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat
tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya
terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi
orang yang sombong.
Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap
tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan
sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur
Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
ﻭَﻋِﺒَﺎﺩُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻤْﺸُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻫَﻮْﻧًﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺧَﺎﻃَﺒَﻬُﻢُ
ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠُﻮﻥَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺳَﻠَﺎﻣًﺎ
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah
orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan
rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang
baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda,
ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻭْﺣَﻰ ﺇِﻟَﻲَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻮَﺍﺿَﻌُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺨَﺮَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺣَﺪٍ ﻭَﻟَﺎ
ﻳَﺒْﻎِ ﺃَﺣَﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺣَﺪٍ
‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar
kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun
yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat
aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣَﺎ ﻧَﻘَﺼَﺖْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻭَﻣَﺎ ﺯَﺍﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺑِﻌَﻔْﻮٍ ﺇِﻻَّ ﻋِﺰًّﺍ ﻭَﻣَﺎ
ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻻَّ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ .
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada
orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan
Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak
ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena
Allah, melainkan Allah akan mengangkat
derajatnya . ” (HR. Muslim no. 2588)
Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat
seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,
ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺮْﻓَﻊِ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu
beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).
Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah
sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara
total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah
Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah
dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’
terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati,
memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda,
dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap
sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan
manusia.  ( Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)
Tidak Termasuk Kesombongan
Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap
sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang
bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian
dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk
kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan
bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan
selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan
bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu
termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah,
karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-
Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-
Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.(
Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)
Kesombongan yang Paling Buruk
Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata,
“Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang
menyombongkan diri di hadapan manusia dengan
ilmunya , merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang
dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat
ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut
ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan
hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan
terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus
memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu
introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari
hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan
akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk
membanggakan diri dan meraih kedudukan,
memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta
membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal
ini merupakan kesombongan yang paling besar . Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar
dzarrah (biji sawi) . Laa haula wa laa quwwata illaa
billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li Ibni al ‘Utsaimin hal.
75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)
Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah
Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya
kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa
nabiyyinaa Muhammad.
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Sabtu, 24 Januari 2015

Jujur salah .bohong bikin masalah

Jujur Salah, Bohong Bikin Masalah
(Edisi 23 Januari 2015)
Ada 4 poin yang tercatat:
Pertama: jika ingin mengerti keburukan sifat dusta dari diri
sendiri, maka perhatikan kebohongan orang lain. Niscaya
anda akan membencinya, merendahkan, dan mengecamnya.
Begitulah kedudukan orang yang berdusta, yang melakukan
suatu yang tidak terpuji dan melakukan salah satu ciri
kemunafikan, yakni: “Jika berkata, dia berbohong”.
Tadi Pak Komar di segmen keempat mengutip apa yang
pernah diucapkan oleh Ibnu Mas’ud ra.: “Suatu saat,
Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya jujur itu
menunjukkan kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun
menuju surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur,
niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan
sebaliknya, susungguhnya dusta itu menunjukkan kepada
kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke
neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat
sebagai pendusta’”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Jadi poin ketiga: pada hakikatnya jujurlah, dan jangan
perlakukan orang seperti kebanyakan orang memperlakukan
bendera. Seolah-olah dipuja, dihormati, lalu ditarik ulur,
kemudian ditinggalkan sendiri. Kepanasan sendiri, kehujanan
sendiri, merana sendiri, hingga lecet dan warnanya meluntur.
Dan terakhir, cinta pun bisa berdusta, tetapi jika engkau
miliki adalah cinta sejati maka semua bisa diatasi. Jika ada
cinta sejati yang mewarnai hidupmu, kamu pun tak kan
pernah mengkhianati siapapun dengan berdusta. Tersirat
dalam kalimat Fitrop, “Lebih baik ditampar oleh kejujuran
daripada dikecup oleh kebohongan”. (Maman Suherman)

Jumat, 23 Januari 2015

Jatuh cinta

Jatuh Cinta,, kapan terakhir kali kalian jatuh cinta,,
ayoo coba di pikir-pikir kapan terakhir kali kalian jatuh
cinta,, *nyengir*
Kadang saya bertanya-tanya kenapa namanya harus
“jatuh cinta..” jatuh itu kan sakit, nyusruk, dan pasti
ada luka saat terjatuh ya gak,,
Ya,,ya ..ya mungkin ini pertanyaan konyol dan bodoh,
kenapa harus di namakan jatuh cinta,bukan naik cinta,
atau menyerahkan diri pada cinta..
*digampar massa*
Mungkin nih ya, dinamakan jatuh cinta,, karena saat
kamu jatuh cinta, gak selamanya berarti bahagia, jatuh
cinta itu kan juga bisa berarti nyusruk, terluka, selalu
ada duka bukan dalam setiap cinta yang ada,
“kapan ya kita bisa bilang kalau kita jatuh cinta, gimana
ngebedain antara jatuh cinta sama suka..”
*tarik nafas dalam dalam..*
Gimana cara kita membedakan kalau sebenarnya kita
cuma suka aja kapan rasa itu dibilang suka kapan
dibilang jatuh cinta,,
*tarik nafas lagi dah..*
Ini pertanyaan yang sulit karena kadang orang gak tahu,
bagaimana membedakan antara perasaan suka sama
perasaan jatuh cinta,,
Suka itu cuma simpati aja, bisa jadi karena kamu
menemukan sesuatu yang selama ini gak pernah kamu
temukan,,atau karena kamu mengagumi tipikal pria
tertentu, misalnya gini ,,
“kamu ketemu sama seseorang yang kalau di ajak
ngobrol nyambung, pinter, manis, kalau ngobrol sama
dia kamu gak pernah kehabisan bahan cerita,, “
Untuk bagian yang ini mungkin bisa dibilang suka, atau
sebatas mengagumi karena kamu menemukan sparring
partner yang tepat dan sejalan dengan pemikiran mu,,
Kalau jatuh cinta tuh, beda,,
Hidup terasa lebih bahagia saat kamu jatuh cinta,
semua menjadi lebih bersemangat,,dan satu yang pasti
kamu gak butuh alasan untuk jatuh cinta,, orang yang
selalu mencari-cari alasan saat mereka jatuh cinta,,
adalah orang yang gak yakin kalau mereka sedang
jatuh cinta ,,
Buat kalian yang sedang jatuh cinta, jangan terburu-
buru nikmati aja perasaan yang ada, gak setiap hari
kalian bisa jatuh cinta, dan gak semua orang di dunia ini
mengalami perasaan yang namanya jatuh
cinta,, biarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya,
biarkan rindu itu hadir,, pernah gak kalian
membayangkan apa jadinya dunia jika semua orang tak
pernah jatuh cinta, apa jadinya dunia tanpa cerita
asmara romeo dan juliet ataupun laila majnun, pasti
dunia akan jauh lebih membosankan,,
Tahu gak saat kamu lagi jatuh cinta, maka dunia jauh
berubah menjadi lebih indah, kamu akan lebih
bersemangat menjalani hari-hari mu, kamu akan lebih
sering tersenyum, dan sejelek apapun orang itu dia akan
jauh lebih cantik saat dia jatuh cinta,
Buat kamu yang kebat kebit menunggu pernyataan hati
dari si dia, ja ngan takut gak ada yang salah dengan
mengungkapkan perasaan kamu lebih dulu ,, tapi janji
ya lakukan ini kalau kamu sudah yakin sama perasaan
kamu, yakin bahwa rasa ini adalah jatuh cinta bukan
kagum semata, bagaimanapun juga rasa yang ada
dihati itu harus di ungkapkan , mending malu ditolak ,,
daripada kamu terus menyimpan rasa itu ,,dan suatu
hari nanti saat hidup mu memburuk dan tak sesuai
kenyataan kamu menyesal dan berkata, ,” kalau aja dulu
gw berani ngomong, ah seandainya..” itu sungguh
buruk ,, mereka yang menyesali masa lalu adalah
pecundang yang sesungguhnya.
Dan buat kamu yang patah hati karena cinta bertepuk
sebelah tangan , jangan takut , tetaplah melanjutkan
hidup , hidup ini indah sayang , dan hidup ini bukan
untuk di sesali, saya kasih tahu satu hal, selama
bendera kuning belum berkibar, maka si dia masih milik
alam jagat raya, *di timpuk massa*
Oh ya ada satu rahasia lagi, dan ini ampuh untuk kamu
yang lagi galau..
“ Jika Tuhan menghendaki cerita itu menjadi nyata,
maka meski seluruh alam jagat raya berkonspirasi untuk
menggagalkan nya maka itu tetap akan menjadi nyata,
namun meski Kamu beserta Alam jagat raya
berkonspirasi untuk mewujudkannya , tapi Tuhan tidak
menghendaki, maka peristiwa itu tidak menjadi nyata.. “