soewarsomandalaputra

Kamis, 12 Maret 2015

Surah al-jinn 1-6

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan“ (QS. Al Jin: 1)

Faidah:

Ada jin yang mu’min, ada  jin yang kafir
Jin juga mengakui keistimewaan dan keagungan Al Qur’an
Di dunia jin pun ada dakwah
Di bacakan Al Qur’an kepada sekelompok jin ini dalam rangka menegakkan hujjah atas mereka
Dakwah yang haq diantara kaum jin pun berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah
 

يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

“(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami,” (QS. Al Jin: 2)
Faidah:
Syaikh As Sa’di menuturkan: “Ar Rusyd adalah segala sesuatu yang menuntun manusia kepada maslahat dunia dan akhirat”
Ar Rusyd (الرشد) dan Al Huda (الهدى) adalah dua istilah yang sama jika digunakan sendirian. Namun jika digunakan dalam satu tempat, Al Hudaartinya ilmu yang benar, lawannya adalah Adh Dhalaal (الضلال), yaitu ilmu yang sesat. Sedangkan Ar Rusyd artinya amal yang benar, lawannya adalah Al Ghayy (الغي), yaitu amal keburukan (Lihat Ighatsatul Lahfaan, 2/168)
Huruf fa’ pada kata فامنا به menujukkan adanya sebab akibat. Yaitu para jin yang beriman tersebut menegaskan bahwa Al Qur’an adalah sebab mereka menjadi beriman. Inilah cara beragama yang benar, mengimani sesuatu karena dalil, mengamalkan sesuatu karena dalil, bukan karena ikut-ikutan, taqlid buta atau karena kebetulan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Iman yang didasari atas dalil lah yang menjadikannya kokoh, bahkan iman yang kokoh ini membuahkan berbagai macam kebaikan agama lainnya. Sebaliknya iman yang hanya didasari oleh ikut-ikutan atau fanatik buta, adalah iman yang lemah dan tidak akan membuahkan kebaikan bagi kondisi agamanya.
Islam yang sempurna tidak cukup menetapkan keimanan (al itsbaat) namun juga wajib mengingkari kesyirikan (an nafyu). Inilah potret iman yang kokoh hasil pendidikan Qur’ani.
Membenci dan menjauhi kesyirikan sudah menjadi konsekuensi keimanan. Namun dalam ayat ini, seolah para jin ingin menyindir kaum musyrikinyang hanya mengaku beriman kepada Allah namun di sisi lain, sambil beribadah kepada Allah mereka juga nyambi beribadah kepada selain Allah alias berbuat syirik.
 

وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

“dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (QS. Al Jin: 3)
Faidah:
Para jin tersebut mengakui kesempurnaan Dzat Allah, dan mereka seolah membantah para hamba yang mengklaim bahwa Allah memiliki istri dan anak
Memiliki istri dan anak adalah sifat kekurang-sempurnaan (naqish) karena menunjukkan adanya kebutuhan terhadap entitas lain, padahal Allah adalah Al Ghaniyyu.
 

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا

“Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah“ (QS. Al Jin: 4)
Faidah:
Syaikh As Sa’di berkata: “Syathatha (شططا) maksudnya perkataan yang jauh dari kebenaran dan melampaui batas. Perkataan yang demikian terhadap Allah tentu hanya dikatakan oleh orang-orang bodoh dan kurang akalnya walaupun ia dianggap terhormat atau pandai oleh kaumnya”.
 

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah“ (QS. Al Jin: 5)
Faidah:
Syaikh As Sa’di berkata: “Maksudnya, para jin tersebut mengatakan ‘dahulu kami tertipu oleh orang-orang terpandang di kalangan jin dan manusia. Kami berprasangka baik kepada mereka. Kami mengira, mereka tidak mungkin berkata bohong tentang Allah’ “.
Berkata dusta tentang Allah atau berkeyakinan tentang Allah tanpa dasar adalah hal yang secara naluriah dianggap perkara yang tercela.
Apa yang terjadi pada para jin itu sungguh terjadi juga pada manusia, sampai di zaman ini. Betapa banyak orang yang dalam beragama hanya taqlid buta kepada tokoh-tokoh, entah disebut kiai, ajengan, sepuh, cendikiawan, ustadz, rois, syaikh, dsb. Mereka menjalani hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam dengan dalih sekedar berprasangka bahwa tokoh-tokoh mereka itu tidak akan salah, tidak akan keliru dan tidak akan berdusta.
Cara mendakwahi orang yang sudah taqlid buta, adalah dengan mengenalkannya kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana para jin ini bertaubat dari taqlid buta karena Al Qur’an.
 

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan“ (QS. Al Jin: 6)
Faidah:
Meminta bantuan jin adalah perbuatan yang tercela dan dilarang dalam Islam.
Kata الْجِنِّ di sini dalam bentuk ma’rifah sehingga memberikan makna umum, yaitu semua jenis jin. Sehingga dilarang meminta bantuan kepada jin, baik kepada jin kafir maupun jin muslim, jin fasiq maupun jin muslim yang taat beribadah.
Syaikh As Sa’di menjelaskan, kata فَزَادُوهُمْ memiliki dua kemungkinan:
Kemungkinan pertama, fa’ilnya mengacu pada رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ  dan هم mengacu pada jin. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia.
Kemungkinan kedua, fa’ilnya mengacu pada رِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ dan  هم mengacu pada manusia. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia tersebut beristi’adzah kepada selain Allah dan ia pun akan menjadi orang yang senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir. Sebagaimana sebagian orang ketika baru mau masuk lembah saja sudah khawatir dan berkata: “Wahai penunggu lembah lindungi saya dari temanmu yang jahat”.
Buruk dan tercelanya perbuatan meminta bantuan kepada jin, serta akibat buruk yang ditimbulkan sudah diakui, ditegaskan dan dibenarkan oleh bangsa jin sendiri.
Allahu’alam.

Referensi: Taisir Karimirrahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

Senin, 02 Maret 2015

Melangkahi kakak ketika menikah

Assalamualaikum wr.wb
Pak Ustadz/Bu Ustadzah
Saya randi (pria) 25 tahun, ayah saya sudah meninggal, saya dua bersaudara, saya punya kaka perempuan yang belum menikah, sampai sekarang saya belum berhasil menemukan jodoh yang baik untuk kaka saya, saya sangat sedih melihat ibu saya yang tertekan karena masalah ini…lalu sekarang pasangan saya sudah menanyakan keseriusan hubungan saya, dia takut dosa yg dtimbulkan dari pacaran yg trlalu lama akan ditanggung oleh orang tuanya.

Apa yang sebaiknya saya lakukan? Apakah saya sebaiknya mempertahankan hubungan dan meminta restu pada ibu dan kaka atau saya sebaiknya mengakhiri hubungan saya dengan pasangan saya dan menunda untuk tidak menikah sampai mnemukan jodoh untuk kaka?

Mohon bimbingan pak ustadz/bu ustadzah..trimakasih
Wassalamualaikum wr.wb

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada banyak aturan di sekitar kita yang ditetapkan berdasarkan adat dan budaya. Sebenarnya ini tidak menjadi masalah, karena islam menghargai adat dan budaya, selama di sana tidak bertentangan dengan aturan Allah dan tidak ada nsur kedzaliman.

Ketika salah satu dari kriteria ini tidak terpenuhi, tentu saja adat dan budaya itu tidak boleh diperlakukan.

Salah satunya masalah melangkahi kakak dalam menikah. Bagi sebagian masyarakat, ini pantangan atau bahkan tindakan kedurhakaan. Seorang adik dianggap melanggar hak kakaknya, ketika dia mendahului menikah sebelum kakaknya.

Kita akan mengukur, bagaimana status aturan ini dan bagaimana islam mengaturnya.

Pertama, islam menganjurkan dan memotivasi kaum muslimin agar segera menikah.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).

Islam juga menganjurkan agar kaum muslimin saling bekerja sama untuk mewujudkan pernikahan. Ketika ada diantara mereka yang belum menikah, yang lain dianjurkan untuk membantunya agar bisa segera menikah. Allah berfirman,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Nikahkahlah orang yang bujangan diantara kalian serta orang baik dari budak kalian yang laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. (QS. An-Nur: 32).

Kedua, islam hanya menetapkan syarat, seorang muslim disyariatkan agar segera menikah ketika dia sudah mampu. Mampu secara finansial, sehingga bisa menanggung nafkah keluarganya, mampu dalam menyediakan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

Tidak ada persyaratan bahwa kakak harus sudah menikah. Juga tidak pernah ada larangan untuk melangkahi sang kakak.

Sehingga, ketika sebagian masyarakat mensyaratkan, pernikahan adik harus dilakukan setelah kakak menikah, berarti mereka menetapkan syarat yang bukan syarat dan itu menghalangi terwujudnya pernikahan.

Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menetapkan syarat yang bertentangan dengan aturan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَوْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ فَهُوَ بَاطِلٌ
Semua syarat yang tidak ada dalam kitabullah maka itu bathil, meskipun jumlahnya seratus syarat. (HR. Ahmad 26248, Ibn Majah 2617 dan yang lainnya)

Ketiga, menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dianjurkan dalam syariat, tanpa alasan yang dibenarkan, termasuk tindakan kedzaliman.

Anda bisa membayangkan, ketika adik dilarang menikah selama kakak belum menikah. Sementara terkadang si kakak belum menemukan jodohnya. Lalu sampai kapan sang adik akan menikah? Sementara batas mencarikan jodoh bagi si kakak belum jelas waktunya.

Kita tidak boleh membela orang lain dengan cara mendzalimi orang lain. Membela kakak dengan cara mendzalimi adik, jelas tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan.

Kita bisa semakin jelas memahami ini, jika kita tetapkan pada kasus lain. Anda bisa perhatikan beberapa contoh berikut,

Adik tidak boleh lebih kaya dibandingkan kakak. Jika adik lebih kaya dari pada kakak, maka kekayaan adik harus diberikan ke kakak.

Adik tidak boleh lebih sukses dari pada kakak. Jika adik lebih sukses, adik harus menurunkan prestasinya agar kakak tidak kalah saing.

Kita sepakat, aturan semacam ini tida boleh diterapkan. Karena jelas sangat mendzalimi adik.

Dan sebenarnya jika kita pertimbangkan, tidak jauh berbeda dengan aturan,

Adik tidak boleh menikah sebelum kakak. Jika adik sudah punya calon, harus ditunda pernikahannya atau dibatalkan.

Keempat, barangkali ada yang beralasan,

Jika adik menikah mendahului kakak, ini akan menghambat kakak untuk mendapatkan jodohnya.

Namun alasan ini jelas sangat tidak bisa diterima. Jika tidak dikatakan bahwa ini adalah keyakinan kesyirikan. Karena meyakini adanya sebab yang itu bukan sebab.

Kita sepakat, rizki ada di tangan Allah, jodoh ada di tangan Allah. Dia yang mengatur dan memberikannya kepada manusia dengan cara yang bijak dan tepat.

Ketika adik lebih cepat kaya dari pada kakak, tentu bukan berarti adik menghalangi kakak untuk mendapatkan rizki.

Ketika adik lebih sukses dari pada kakak, bukan berarti pula akan menjadi penghalang bagi kakak untuk sukses.

Kita sangat sepakat dengan itu.

Demikian pula yang terjadi dalam masalah pernikahan. Pernikahan adik jelas bukan pernghambat jodoh bagi si kakak.

Yang lebih berbahaya lagi, ketika aturan semacam ini dikembangkan, bisa jadi akan memicu permusuhan antara adik dan kakak. Adik akan merasa, orang tuanya pilih kasih dan lebih berpihak kepada kakak.

Kelima, boleh saja sang adik memberika hadiah kepada si kakak. Barangkali bisa sebagai pelipur kesedihannya yang belum menemukan jodohnya. Dan semacam ini dianjurkan, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادَوْا فَإِنَّ الهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ
“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan kebencian yang ada dalam dada.”  (HR. Turmudzi 2130)

Demikian, Allahu a’lam

Minggu, 01 Maret 2015

Empat pendekar gaib sunan kali jogo

Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini

Sedulur papat antara kejawen dan islam

Keberadaan kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Semenjak pertama kali kita diturunkan ke alam dunia lewat rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan adanya penjaga-penjaga yang senantiasa mendampingi kita hidup di alam dunia. Dan sesuai dengan perintah Tuhan, para penjaga-penjaga itu dengan setia senantiasa berada di sekeliling kita.

Bagi orang Jawa, khususnya orang yang memahami tentang Kejawen, adanya para penjaga tersebut dikenal dengan sebutan “Sedulur Papat”. Siapa saja Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal masyarakat yang memahami Kejawen adalah:
1. Kakang Kawah (Air Ketuban)
2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari)
3. Getih (Darah)
4. Puser (Pusar)

Kakang Kawah
Yang disebut dengan Kakang Kawah adalah air ketuban yang menghantarkan kita lahir ke alam dunia ini dari rahim ibu. Seperti kita ketahui, sebelum bayi lahir, air ketuban akan keluar terlebih dahulu guna membuka jalan untuk lahirnya si jabang bayi ke dunia ini. Lantaran air ketuban (kawah) keluar terlebih dulu, maka masyarakat Kejawen menyebutnya Kakak/Kakang (saudara lebih tua) yang hingga kini dikenal dengan istilah Kakang Kawah.

Adhi Ari-Ari
Sedangkan yang disebut dengan adhi ari-ari adalah ari-ari jabang bayi itu sendiri. Urutan kelahiran jabang bayi adalah, air ketuban terlebih dulu, setelah itu jabang bayi yang keluar dan dilanjutkan dengan ari-ari. Karena ari-ari tersebut muncul setelah jabang bayi lahir, maka masyarakat Kejawen biasanya mengenal dengan sebutan Adhi/adik Ari-ari.

Getih
Getih memiliki arti darah. Dalam rahim ibu selain si jabang bayi dilindungi oleh air ketuban, ia juga dilindungi oleh darah. Dan darah tersebut juga mengalir dalam sekujur tubuh si jabang bayi yang akhirnya besar dan berwujud seperti kita ini.

Puser
Istilah Puser adalah sebutan untuk tali pusar yang menghubungkan antara seorang ibu dengan anak yang ada dalam rahimnya. Dengan adanya tali pusar tersebut, apa yang dimakan oleh sang ibu, maka anaknya pun juga ikut menikmati makanan tersebut dan disimpan di Ari-Ari. Disamping itu, pusar juga digunakan oleh si jabang bayi untuk bernapas. Oleh karena itu, hubungan antara ibu dengan anaknya pasti lebih erat lantaran terjadinya kerjasama yang rapi untuk meneruskan keturunan. Semuanya itu atas kehendak dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si ibu. Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang ada di muka bumi ini. Maka bila masyarakat Kejawen hingga kini mengenal adanya doa yang menyebut saudara yang tak tampak mata itu secara lengkap yaitu
“KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER, KALIMO PANCER”.

Pancer
Lalu siapakah yang disebut dengan istilah Pancer? Yang disebut dengan istilah Pancer itu adalah si jabang bayi itu sendiri. Artinya, sebagai jabang bayi yang berwujud manusia, maka dialah pancer dari semua ‘saudara-saudara’nya yang tak tampak itu.

Kesamaan Dengan Islam
Antara ajaran Kejawen dengan Islam ada kesamaannya. Dalam Islam disebutkan bahwa setiap manusia dijaga oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Tuhan. Siapa saja malaikat-malaikat itu? Malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Gusti Allah untuk setiap manusia itu antara lain, Jibril, Mikail, Izroil dan Isrofil.

Nah, kesamaan antara ajaran Kejawen dan Islam tersebut yakni Kakang Kawah yang disebutkan sebagai pembuka jalan si jabang bayi, itu di Islam dianggap sama dengan Jibril (Penyampai Wahyu). Malaikat Jibril lah yang membuka jalan bagi keselamatan sang bayi hingga lahir ke dunia.

Sedangkan Adhi Ari-ari yang disebut-sebut di dalam ajaran Kejawen, di dalam Islam dianggap sama dengan Mikail (Pembagi Rezeki). Karena lewat Ari-Ari itulah si jabang bayi dapat hidup dengan sari-sari makanan yang didapatkan dari seorang ibu.

Sementara Getih (darah) , bagi orang Kejawen, pada pemahaman orang Islam dianggap sama dengan keberadaan malaikat Izroil (pencabut nyawa). Buktinya, jika tidak ada darahnya, apakah manusia bisa hidup?

Yang terakhir adalah Puser. Dalam pemahaman masyarakat Kejawen, Puser adalah sambungan tali udara (napas) antara sang ibu dengan anaknya. Nah, pada pemahaman Islam, Puser ini dianggap sama dengan Isrofil (Peniup Sangkakala). Meniup sangkakala menjelang kiamat Qubro (kiamat Besar) adalah dengan napas.

Oleh karena itu, kita wajib mengenali siapa penjaga-penjaga tak nampak yang sudah diperintahkan Gusti Allah untuk senantiasa mendampingi kita. Dengan kita mengenali keberadaan mereka, akhirnya mereka nantinya bisa mawujud (berwujud). Dan yang perlu diingat lagi, jika kita sudah melihat wujud mereka, maka hendaknya kita senantiasa memuji atas kebesaran Gusti Allah yang Maha Agung. Karena atas titah Gusti Allah-lah kita semua bisa hidup berdampingan dengan penjaga-penjaga yang disebut dengan Sedulur Papat, Kalimo Pancer.

Jin qorin

Siapa itu Qorin?

Qorin adalah jin yang ditugasi untuk mendampingi setiap manusia dengan tugas menggoda dan menyesatkannya. Karena itu, qorin termasuk setan dari kalangan jin.

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, “Apa itu qorin?” Beliau menjawab, “Qorin adalah setan yang ditugasi untuk menyesatkan manusia dengan izin Allah. Dia bertugas memerintahkan kemungkaran dan mencegah yang ma’ruf. Sebagaimana yang Allah firmankan,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ وَاللهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan kefakiran untuk kalian dan memerintahkan kemungkaran. Sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia dari-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)Akan tetapi, jika Allah memberikan karunia kepada hamba-Nya berupa hati yang baik, jujur, selalu tunduk kepada Allah, lebih menginginkan akhirat dan tidak mementingkan dunia maka Allah akan menolongnya agar tidak terpengaruh gangguan jin ini, sehingga dia tidak mampu menyesatkannya. (Majmu’ Fatawa, 17:427)

Dalil Adanya Jin Qorin

Di antara dalil yang menunjukkan adanya qorin:
a. Firman Allah

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ
“Yang menyertai manusia berkata : “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Qaf: 27)
Dalam tafsir Ibn Katsir dinyatakan bahwasanya Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Mujahid, Qatadah dan beberapa ulama lainnya mengatakan, “Yang menyertai manusia adalah setan yang ditugasi untuk menyertai manusia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7:403)

b. Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللَّه أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلا يَأْمُرنِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karen itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Tugas jin Qorin
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما منكم من أحد إلاوقد وكل به قرينه من الجن
“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi mengatakan, “Dalam hadis ini terdapat peringatan keras terhadap godaan jin qorin dan bisikannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tahu bahwa dia bersama kita, agar kita selalu waspada sebisa mungkin. (Syarh Shahih Muslim, 17:158)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid menjelaskan, “Berdasarkan perenungan terhadap berbagai dalil dari Alquran dan sunah dapat disimpulkan bahwa tidak ada tugas bagi jin qorin selain menyesatkan, mengganggu, dan membisikkan was-was. Godaan jin qorin ini akan semakin melemah, sebanding dengan kekuatan iman pada disi seseorang.” (Fatawa Islam, tanya jawab, no. 149459)

Apakah qorin juga menyertai manusia setelah dia meninggal?
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Apakah qorin ini akan terus menyertai manusia, sampai menemaninya di kuburan? jawabnya, Tidak. Zahir hadis –Allahu a’lam– menunjukkan bahwa dengan berakhirnya usia manusia, maka jin ini akan meninggalkannya. Karena tugas yang dia emban telah berakhir. Ketika manusia mati maka akan terputus semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya. (HR. Muslim). (Majmu’ Fatawa, 17:427)

Cara Melindungi Diri dari Jin Qorin
Banyaklah berdzikir dan memohon perlindungan kepada Allah. Jika kita sungguh-sungguh melakukan hal ini, insyaaAllah, akan datang perlindungan dari Sang Kuasa. Allah berfirman,

وَإِمَّا يَنَزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Apabila setan menggodamu maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-A’raf: 200)
Dalam Tafsir As-Sa’di dinyatakan, “Kapanpun, dan dalam keadaan apapun, ketika setan menggoda Anda, dimana Anda merasakan adanya bisikan, menghalangi Anda untuk melakukan kebaikan, mendorong Anda untuk berdosa, atau membangkitkan semangat Anda untuk maksiat maka berlindunglah kepada Allah, sandarkan diri Anda kepada Allah, mintalah perlindungan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar terhadap apa yang anda ucapkan dan Maha Mengetahui niat Anda, kekuatan dan kelemahan Anda. Dia mengetahui kesungguhan Anda dalam bersandar kepada-Nya, sehingga Dia akan melindungi Anda dari godaan dan was-was setan. (Taisir Karimir Rahman, Hal.313)

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.co

Debu di Atas debu

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Debu di Atas Debu

Dalam perjalanan baik di dunia nyata maupun maya
ada satu sifat yang sering kita jumpai dari orang dekat kita
atau pun cuma kenalan biasa: SOMBONG

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri
agar terbebas dari sifat yang tanpa sadar sering membuat terjerembab

Mari awali tulisan ini dengan menghadirkan semangat untuk merefleksi diri sambil terus berniat untuk memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum sibuk melihat dan menilai orang lain

~Penyebab utama orang SOMBONG adalah kurangnya rasa syukur dan perasaan LEBIH dari orang lain. Lupa diri sehingga melayang terlalu tinggi tak lagi ingat kalau masih menginjak bumi ~

~Faktor budaya dan EGO KELUARGA bisa juga menjadi faktor munculnya sifat SOMBONG. Disinilah peran pola asuh yang tepat dapat menjadikan anak rendah hati dan lebih bersahabat. ~
Secara umum SOMBONG bisa muncul ketika merasa memiliki: ILMU yang mumpuni, HARTA berlimpah hingga tujuh generasi, KUASA tak terbantah, ketenaran NAMA besar, dan terkadang juga merasa gaya prilakunya banyak diikitu oleh orang lain~

~Kesombongan ilmu terlihat dari sikap rendahkan orang yang ilmunya kurang. Alih-alih mengajarkan orang yang belum tahu justru pada yang bertanya dijadikan bahan olok-olok dan dianggap semua masalah itu ringan~

~Sikap sombong ilmu tampak pula dari sikap tak mau mendengarkan orang lain ataupun mengoreksi diri ketika orang lain beri penjelasan.Menutup diri dari pendapat yang berbeda.~

~Beberapa orang karena kesombongan ilmunya tadi berani meremehkan guru-guru yang dulu pernah memberi ilmu. Bahkan malu mengaku pernah berguru ~

~Ketinggian ilmu tak selamanya membuat seseorang menjadi rendah hati sebagaimana diibaratkan seperti ilmu padi – makin berisi makin menunduk – makin berilmu makin hormat pada guru. Karena – sebagaimana yang diajarkan dalam filosofi pepatah Minangkabau “Alam takambang jadi guru”, maka lingkungan sekitar adalah guru dengan segala macam ajaran yang disampaikan. Karena itu semakin berilmu seharusnya semakin ramah pada sekitar~

Miliki banyak harta tentulah impian sebagian besar manusia. Seminar dan pelatihan yang mengajarkan untuk jadi kaya pun laris manis. Sayang kekayaan yang didapat justru sering menjauhkan diri kerendahan hati. Kaya harta tapi miskin hati alamat cepat matinya nurani.

Harta yang dimiliki menjadi tembok pembatas untuk berinteraksi. Dalam banyak cerita kita dapati kisah kehancuran manusia – bahkan hingga hari ini – disebabkan kesombongan atas harta yang dimiliki. Padahal harta bisa jadi sarana menjadi hamba mulia yang berguna bagi sesama.

Menapaki tangga kehidupan tak jarang menghantarkan seseorang di puncak tangga kekuasaan. Bila tak pandai pegang kendali diri bisa-bisa kesombonganlah yang menguasai.

Puncak kuasa jadi sarana hempaskan diri ke dalam lembah kehinaan. Kekuasaan yang harusnya mensejahterakan seluruh alam, bisa jadi alat kehancuran diri dan lingkungan dikarenakan ketidakmampuan dalam mengendalikan diri sendiri. Sejarah masa lalu dan masa kini telah membuktikan.

Setelah ilmu, harta dan tahta, sifat sombong pun bisa muncul diam-diam lewat ketenaran dan nama besar. Kesombongan karena nama besar seringkali datang tanpa disadari karena ia begitu HALUS dan sering lebih SAMAR. Padahal nama besar merupakan modal jadikan kebaikan cepat tersebar, namun sifat sombong kuburkan harapan besar perbaikan kemanusiaan.

~Sebelum punya nama, ramah tegur sapa terasa ke siapa saja. Setelah tenar kawan yang dulu pernah sekamar pun tak lagi dikenal. Senyum dilepas seperlunya, tegur sapa hanya untuk orang tertentu saja. Bila tak sesama orang bernama harap maklum bila tak nampak mata walau ada dalam satu kereta. ~

Kesombongan merupakan refleksi kurangnya mengenal diri. Dari mana kita berasal, hendak kemana kita menuju? Buya Hamka pernah berkata bahwa manusia tak lebih dari “Debu di atas Debu”. Karenanya tiadalah berguna menyombongkan diri baik karena ilmu yang kita punya, harta yang ada di pundi-pundi kita, tahta yang berkilau di atas kepala, ataupun nama besar yang terus bersinar.

Marilah kita terus belajar dari apapun yg ada di sekitar. Kedewasaan dan kecerdasan adalah formula kebijaksanaan agar terhindar dari sombong. Kuatkan ketaatan dalam beribadah jadikan hati lebih mudah merendah indah.

Besar harapan tulisan yang merupakan self reminder ini menjadi penguat semangat terus perbaiki diri.

~Yang menulis belum tentu lebih baik dari yang membaca~

Selasa, 24 Februari 2015

Jomblo

INI UNTUK YANG MASIH JOMBLO AJA LHO.... :)
Ketika Abu Nawas Berdoa Minta Jodoh

Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah.

Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

"Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah," ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.

"Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku," katanya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani "maksa" kepada Allah seperti doa sebelumnya.

"Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku," begitu bunyi doanya.

Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia. Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit "diplomatis" dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.

"Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu," begitu doa Abu Nawas.

Barangkali karena keikhlasan dan "keluguan" Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.

(Repost : Kisah teladan Islami)
*

Semoga Bermanfaat ...

#Salam_manis_buat_yang_baca

Senin, 23 Februari 2015

Keadilan

Hal ini membuat saya berpikir: apa sih sebenarnya
keadilan itu?
Apakah keadilan berarti sama?

Jika saya sama dengan anda, maka berarti adil?
Ini adalah maksud yang sering di”cantol”kan
dengan kata keadilan.

Sebenarnya kita memiliki kata khusus untuk ini yang disebut “kebersamaan”,
seharusnya kata ini yang digunakan jika kita
mengemukakan konsep keadilan yang sama.

Apakah keadilan berarti perbedaan? Jika memang kita
berbeda, tentunya keadilan adalah perlakukan yang
berbeda sesuai dengan perbedaannya.
Perlakuan lebih
perlu diberikan kepada kaum minoritas, sedangkan
yang sudah mayoritas yaa biarkan saja. Yang kurang
dilebihkan, yang lebih yaa dikurangkan (berbeda khan perlakuannya) Hakikat arti keadilan seperti ini sebenarnya mirip
dengan yang kedua, yaitu ingin sama. kita harus
diperlakukan berbeda supaya sama. Padahal
perlakuan berbeda itu khan udah tidak sama, jadi
pengin adil dengan cara tidak adil? Apakah keadilan
berarti “pada tempatnya”? Ada lagi yang saya sering temui, pendapat yang menyatakan bahwa
keadilan itu yaa harus dilihat “pada tempatnya”/
konteksnya.

Adil bisa berarti sama, bisa berarti beda.
Problemnya adalah kalau udah bicara konteks, berarti
tambah persepsi. Kalau diawal hanya persepsi akan
arti keadilan berbeda, sekarang ditambah persepsi akan konteksnya. Yaa lumayan lah, dengan konteks, paling tidak
mencoba untuk saling mengerti. Hanya saja kalau udah
saling mengerti apakah berarti akan saling mau
mengorbankan kepentingan? Karena mengerti dan
berkorban itu adalah 2 bukit yang terkadang masih
memiliki jalan panjang.

Pengertian Keadilan pada hakikatnya adalah
memperlakukan seseorang atau pihak lain sesuai
dengan haknya. Yang menjadi hak setiap orang adalah
diakuai dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan
martabatnya, yang sama derajatnya, yang sama hak
dan kewajibannya, tanpa membedakan suku, keturunan, dan agamanya. Sila kelima pada Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia. Pada sila ini dijelaskan bahwa
keadilan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Semua
rakyat memiliki keadilan yang sama, jika salah
katakana salah dan jika benar katakana benar. Tetapi
kondisi sekarang telah berubah, katakana salah bagi yang tidak memiliki uang dan selamatkan yang salah
dari jerat hokum karena dia memiliki uang.
Ini adalah masalah terbesar bangsa, hal seperti ini
sudah mendarah daging di Indonesia. Tidak jelas kapan
semua ini terjadi, semuanya mengalir begitu saja
sampai dengan saat ini yaitu puncak dari ketidakjelasan ideologi bangsa ini. apakah Pancasila masih menjadi akar dari bangsa ini?
ataukah hanya menjadi sejarah? Semua ada ditangan
rakyat, pemuda. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga,
lingkungan dan organisasi, jadikan Pancasila sebagai
akar kekuatan diri sendiri, keluarga, lingkungan dan
organisasi. Dari penjelasan diatas jelas bahwa Negara kita penuh
dengan kecurangan dan keserakahan. Kita sebagai
penerus bangsa harus menunjukkan sikap jujur sejak
dini sejak duduk dibangku sekolah dengan sikap tidak
menyontek, tidak membolos, karena semua itu adalah
sikap tidak bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang tua yang telah banyak memberikan biaya untuk
kita sekolah.
Dibalik kebaikan pasti ada keburukan dibalik sikap jujur
pasti ada kecurangan. Kecurangan adalah sifat
mendapatkan sesuatu dengan segala cara baik halal
maupun haram. Kecurangan dalam kehidupan adalah lawan dari sebuah kejujuran.
Manusia bersikap curang untuk memperoleh kepuasan
tanpa memikirkan dampak bagi dirinya maupun orang
lain.

Kamis, 05 Februari 2015

Kata kata mutiara ulama

#0000Ff
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّ ﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّ ﺣِﻴْﻢِ
Assalamualaikum Wr.Wb.
Ya Akhi wa Ukhti…
☻☻☻Sempatkan waktu anda untuk membaca kata-kata mutiara
atau ilmu dari guru kita, kang Ustadz Arif Budiman. Berikut
ilmu dari beliau… ☻☻☻
• Ruh, Hati, Jiwa dan Akal adalah bagian kehalusan ruhani
dalam diri manusia, ia bagaikan cermin, jika ia bersih, maka
ia akan tampak sempurna…
• Tebar pesona lah kepada Allah, jika kita ingin dicintai kita
harus mencintai dengan tulus dan ikhlas dalam ibadah
kepadaNya.. Selamat beribadah.
• Diantara tanda matinya hati ialah tidak adanya rasa sedih
atas ibadah yang kau lewatkan dan tidak adanya rasa
menyesal atas segla kesalahan yang dilakukan…
• Pada setiap desahan nafas yang dihembuskan, terdapat
takdir Allah yang telah ditetapkan, maka bersyukurlah
kepadaNya…
• Meraka yang beriman, dengan selalu mengingat Allah, hati
mereka menjadi tentram, dan ingatlah hanya mengingat Allah
hatimu menjadi tentram, yuk kita dzikir…
• Barang siapa yang tidak mendekat untuk taat kepada Allah,
sementara Allah telah memberi nikmat kepadanya, maka dia
akan diseret untuk mendekat kepadaNya dengan ujian-
ujianNya…
• Berusaha untuk mencari kekurangan yang tersembunyi
dalam diri lebih baik dari pada berusaha menyibak tirai ghaib
yang terhijab dalam diri kita…
• Hidup adalah ibadah, dunia adalah ladangnya. Barang siapa
yang taat kepada Allah dan Rasul ketika di dunia, maka ia
telah mempersiapkan kemenangan di akhirat…
• Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya karim, demi kebesaran
Nama dan AgamaMu serta kekuasaanMu, idzinkan hamba
memohon rahmat dan ridhoMu…
• Sembuhkanlah hambamu yang sedang sakit dan
mudahkanlah segala ujian dan urusannya, luaskanlah
rizkinya, bimbing, lindungi dan sayangilah mereka…
• Jadikan mereka hambamu yang beriman dan bertakwa,
selamatkan di dunia dan bahagiakanlah mereka di akhirat,
Amiin…
• Raihlah cinta Allah dengan ilmu dan dzikir, karena ilmu
adalah cahaya hidup dan dzikir adalah bekal untuk sampai
kehadiratNya, lakukanlah Lilahita’ala…
• Ketahuilah, dunia adalah kekasih nafsu/Jiwa, akhirat dan
surga adalah kekasih hati, dan Allah adalah kekasih Nurani,
maka renungkanlah…
• Apabila Allah mencintaimu maka Dia akan mengujinya. Jika
kamu sabar dan rela dengan ujianNya, niscaya Dia akan
mensucikanmu dan mencintaimu…
• Ya Allah, anugerahkan karuniaMu kepadaku, lindungilah aku
dengan perisaiMu dan ampunilah kekuranganku dengan
kemulian diriMu…
• Ilmu adalah cahaya, dzikir adalah bekal, barang siapa
memiliki dan menjalani keduanya karena Allah, Insya Allah,
akan sampai kepada kemuliaan-Nya…
• Akal adalah sumber ilmu, hakekat akal adalah kemuliaan,
akal laksana cahaya yang dipancarkan ke dalam hati
sehingga manusia mampu memahami sesuatu…
• Orang yang paling berat azabnya adalah orang berilmu tapi
tidak mengamalkannya, barang siapa bertambah ilmu tapi
tidak bertambah benar jalannya, maka ia semakin jauh dari
Allah…
• Orang yang tahu, tetapi ia tidak tahu bahwa ia mengetahui,
itulah orang yang tertidur, maka bangunkanlah ia…
• Orang yang tahu, dan ia tahu bahwa ia mengetahui, itulah
orag yang berilmu, maka ikutilah dia…
• Orang yang tidak tahu, tetapi ia tahu bahwa ia tidak
mengetahui, itulah orang memerlukan bimbingan, maka
ajarilah ia…
• Dan orang yang tidak tahu, namun ia tidak tahu bahwa ia
tidak mengetahui, itulah orang yang bodoh, maka
waspadalah terhadapnya…
• Ketahuilah Ulama dibagi dua golongan, Ulama dunia dan
Ulama akhirat.. maka waspadalah…
• Ulama akhirat mereka tidak terpengaruh godaan dunia
dengan mengorbankan agama, tidak menjual akhirat demi
dunia dan meraka selalu memperingati hari akhir…
• Mereka mengtahui kemuliaan akhirat dan kehinaan dunia.
Barang siapa tidak mengtahui perbedaan manfaat dan
kemudharatan dunia dengan akhirat, maka ia bukanlah
ulama…
• Serendah-rendahnya orang Alim adalah ia lebih
menyenangi hawa nafsunya dari pada mencintai Allah, maka
Allah haramkan ia untuk merasakan nikmat bermunajat
kepada Allah

Rabu, 04 Februari 2015

Ruang hampa

Hari itu, aku tertatih. Tidak jelas aku sedang berada di mana. Samar-samar seperti di tengah-tengah antara sorga dan neraka. Tunduk, tengadah, bahkan sesekali kepalaku menengok ke arah kanan, kiri dan belakang. Aku berdiri di tengah-tengah dimensi hidup penuh khayal. Kepalan tanganku gusar dengan urat nadi yang tampak tegang. Dunia itu merogok dalam-dalam tenggorokanku sampai ke hulu hati, nafas sesak, denyutan pompa darah di jantungku keras, lebih keras, dan semakin keras. Aku larut dalam sugesti kecemasan dan rontaan kebingungan.

Waktu itu sebuah tangan menepuk pundakku sebelah kanan. Seketika aku menoleh ke arahnya. Tampak ku lihat sesosok manusia misterius berpakaian putih, hampir mirip kakekku yang telah lama tiada. Tanpa sapa dia berkata. “Lihatlah hai anak muda, pandanglah sorga di belakangmu, begitu indah, asri, dengan hiasan bunga mawar mengitari pegunungan-pegunungan tinggi di sana. Sumber kehidupan yang bergelimang, rona-rona cahaya bintang berdansa dengan pepohonan.”

“Siapa kau kek? Apa maksud perkataanmu tadi?” sambut tanyaku.

“Apa untungnya kau tahu siapa aku, yang perlu kau tahu hanyalah, di mana tempat itu?” jawabnya tegas.

“Tapi hidupku lebih mewah dari itu kek. Aku tak perlu lagi berjalan kaki seperti mereka, aku tak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Belanda untuk menemui pamanku, aku tak perlu lagi menggenggam pinsil dan penghapus untuk menulis segala tentang kehidupan ini. Kini aku berada di titik sempurna, semua orang pun tahu, kita tak perlu lagi bersusah payah untuk mencari makan, atau untuk mencerna sepotong goreng singkong yang rasanya aneh.”

Kakek misterius itu hanya tersenyum, terpaut seraya mengejek perkataanku. Dia memang pendengar yang baik, begitu juga aku. Tak lama kemudian Ia melanjutkan kampanye konyolnya. “Baiklah anak muda, saatnya kau melihat ke depan. Lihatlah, tatap dan renungkan apa yang akan kau saksikan.” Kakek itu meluruskan telunjuknya ke arah depan dengan sorot mata yang tajam penuh makna. “Lihatlah pegunungan di sana, lihatlah langit mendung itu, musim-musim tak beraturan, predator dengan senjata bergerigi meluluh lantahkan paku bumi ini, mereka kupas tuntas keasrian alam dengan segala akal bulus dan keserakahannya, aroma menyengat dari tebaran nafsu kekuasaan, rencengan rupiah, lidah-lidah panjang yang merah, para monster yang haus darah berkeliaran di setiap penjuru rumahmu, bahak tawa mereka menunjukkan bahwa kita hanya semut kecil yang bisa di injak-injak lalu mati, merekalah pemangsa harga diri kita dengan akal bulus dan senyuman dusta juga kemunafikan, kita hanya contoh kecil dari korban kepecundangan mereka, lilitan kain belang-belang itu hanya tipuan, topeng di wajahnya pun terbuat dari bahan anti peluru, merekalah neraka, bukan sorga bagimu, aku, atau kita.” Ujarnya bernada meyakinkanku.

“Apakah aku harus peduli pada semua itu kek? Kau hanya manusia renta dan sudah bau tanah, mana mungkin kau mengerti arti kesuksesan.” Sang Kakek itu pun tak mau kalah, dia mempertahankan argumentasinya dengan terus melanjutkan atraksi ceramahnya yang semakin lama membuatku sedikit kesal.

“Aku memang sudah tua, jelas saja karena usiaku tak lebih muda darimu anak muda, aku sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun, setiap hari tugasku hanya mengawasi kalian dengan memo yang telah lusuh ini.”

“hufh…! Bicaramu seperti menunjukkan bahwa kau adalah Tuhan, jangan ngaco. Di zaman sekarang, orang yang menganggap dirinya sebagai Tuhan adalah kafir.”

Lagi-lagi ia mengelak argumentasiku yang bernada seperti tuduhan. “Orang kafir itu hanya ada pada jiwa-jiwa yang kotor, dia mampu membangkang dari apa yang dijaganya. Aku sendiripun tak pernah tahu siapa orang-orang kafir itu. Tak ada jawaban pasti, siapa orang kafir sebenarnya.” Begitu gamblangnya kakek misterius itu berujar, hampir-hampir aku kalah argumen.

Di sela-sela perang dingin itu, tiba-tiba saja pundak kiriku di tepuk oleh sebuah tangan, nampaknya dari arah belakang. Aku tercengang seketika melihat siapa yang menepuk pundakku itu. 'Siapa lagi?' pikirku saat itu.
Kini laki-laki berjubah hitam dengan kumis tipis dan jambul yang tampak seperti ujung pantopel yang aku kenakan. “Jangan dengarkan dia saudaraku, dia hanya akan menyesatkan pikiranmu saja.” Sambutnya dengan senyuman.

“Siapa lagi kau? Apa urusanmu datang kemari?” Tanyaku.

“Aku datang untuk menyelamatkanmu dari kesesatan.” Jawabnya.

“Apa maksudmu?”

“Kau punya pilihan hidup, pilih saja yang menurutmu benar.”

“Dari perkataanmu, kau cukup meyakinkan, apa yang akan kau tunjukkan padaku sebagai pembuktian bahwa perkataanmu benar soal pilihan itu?” Lanjut pertanyaanku.

“Tidak ada.”

“Lantas?”

“Hanya saja kau begitu luwes, ambil saja semuanya, kau punya keluarga yang patut kau hidupi, anak istrimu selalu menunggumu di rumah dengan harapan kau dapat memberikan mereka kejutan besar.”

Aku berpikir sejenak, memikirkan apa yang dikatakan laki-laki misterius berjubah hitam itu. Kejutan apa yang sebenarnya ia maksud. “Aku memang berkeluarga, mereka baik terhadapku, tapi sampai saat ini aku belum memberikan mereka kejutan besar itu. Dengan cara apa?”

“Apa kau merasa kekayaanmu itu sudah cukup? Itu masih belum ada apa-apanya. Coba kau lihat petinggi-petinggi negara di luar sana, mereka hidup serba berkecukupan. Hak rakyat adalah hakmu juga, ambil saja semuanya demi kau dan keluargamu, karena keluargamu lebih membutuhkanmu dibandingkan rakyatmu sendiri.”

Aku tersenyum, sedikit semangat mendengar apa yang diutarakan pemuda misterius itu. “Sekarang, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku lagi.

Pemuda berjubah hitam itu tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. “Hahahaha… mudah saja, sangat… sangat… dan sangat mudah…! Kau ambil saja uang itu, jangan pedulikan orang lain, karena belum tentu orang lainpun memperdulikanmu. Kau punya tanggung jawab besar atas keluargamu. Kau itu seorang petinggi negara ini, kau di percaya oleh kerajaanmu. Apa lagi yang kau pikirkan? Sudah, ambil saja semua harga diri dan martabat makhluk-makhluk kerdil itu, mereka sendiri tidak punya hak mengatur hidupmu.”

“Tapi akumencintai mereka, aku bisa seperti inipun berkat mereka!” Sanggahku.

“Ha ha ha…!” lagi-lagi pemuda misterius itu tertawa “Kau bisa seperti ini bukan berkat mereka, tapi berkat dirimu sendiri. Kau itu pintar, pecahan matematikapun kau selesaikan dalam hitungan detik. Cinta itu bukan ukuran seperti ilmu fisika atau kimia, dia tidak dapat di ukur. Kau bukan makan cinta, tapi nasi.” Sejenak aku berpikir kembali, kian salut penuh keheranan. Ku pikir inilah sebuah anugerah, aku mendapatkan dorongan yang hebat dan membanggakan dari seorang sahabat misterius. Untuk apa aku memikirkan liliput-liliput itu, mereka hanya makhluk kerdil tak bermoral.

Tiba-tiba kakek renta berjubah putih yang berdiri di sebelah kananku tadi menyela di tengah-tengah percakapan kami. “Hei anak muda, gunakanlah sisa hidupmu untuk menjaga dirimu sendiri juga negerimu dari jerat keserakahan. Jangan dengarkan perkataan iblis itu, dia menjerumuskanmu pada suatu kerugian yang besar. Janganlah kau beri keluargamu makanan yang bukan haknya. Karena suatu saat hak, derajat, dan martabat yang kau renggut dari rakyatmu akan membawamu pada jurang yang terjal dan dalam, serta dibawahnya terdapat bara api yang memuncahkan gelombang panas melebihi matahari.”

Sahabat misteriusku nampak gusar mendengar ceramahan Si kakek tua, lantas dia melanjutkan perkataannya dengan penuh motivasi. “Untuk apa aku menghasutmu kawan? Sama sekali tidak ada untungnya bagiku. Aku sudah kaya, hotel-hotel itu pernah jadi milikku, aku pernah jadi raja, aku sudah bosan dengan lembaran-lembaran rupiah, dan sekarang giliranmu, lanjutkanlah kekuasaanku.”

Sedikit banyak aku merasa bingung, di mana kebenaran itu. Mana yang benar dan yang salah? Nuraniku tak dapat memilih begitu saja, terlalu berat rasanya, bagai memikul seribu kubik batu di pundakku. Ku lanjutkan tanyaku pada kakek misterius berjubah putih itu. “Apa lagi yang akan kau tunjukkan padaku setelah ini, kek? Apa mungkin kau sudah kehilangan kekuatan argumenmu?” Tanyaku pada kakek berjubah putih.

Spontan sang kakek tua menjawab pertanyaanku. “Kau lihat sampah-sampah itu? Kau lihat mereka yang tidur nyenyak di atas kepedihan anak-anaknya? Perhatikanlah, di sana begitu banyak korban peperangan, demokrasi yang amburadul, provokasi merajalela, saling menggulingkan, saling menjatuhkan, saling membakar, huru-hara berpadu dengan teori rasial, mereka bukanlah dirimu, dirimu adalah pahlawan, pahlawan penolong umatmu yang telah jadi korban kehancuran negeri ini.”

“Itu bohong kawan, itu tidak ada dalam rumus hidupmu, Si tua renta itu hanya ingin mendapat keuntungan sebagai selirmu nanti, lama kelamaan dia akan menyingkirkanmu dari tahta kebenaran dan duduk di atas singgasana keserakahan.” Hasut sobat misteriusku.

Tak lama kemudian, tepat dihadapanku muncul pemandangan yang begitu mengerikan, itu duniaku, itu planet tempatku hidup. Banjir, letusan gunung merapi, longsor, gempa bumi, kelaparan, kemiskinan meraja, kesenjangan sosial, perang saudara, rasisme, anarkisme, korupsi, kolusi dan nepotisme, udara yang tercemari oleh polusi, gubahan lumpur panas, disintegrasi, dan aksi-aksi kejahatan yang semakin mengakar. Begitu miris, aku bahkan hidup di tengah-tengah roman kehancuran itu.
Aku tersadar. “Ya Tuhan…! Apa yang aku pikirkan selama ini?”
Lidahku kelu, tubuh ini pun kaku, hatiku bergetar, takut, iba dalam diriku bangkit. Kakek tua berjubah putih telah menunjukkan neraka di balik duniaku yang seakan-akan menyerupai surga. Seketika itu aku terperanjat, tersedot ke dalam lubang hitam. Warna-warni cahaya, gelap bagai rongga bawah tanah, sampai aku berpikir ‘Di mana aku?’ Kian dimensi itupun memudar. Si kakek misterius dan seorang pemuda berjubah hitam yang sempat memanggilku dengan sapaan mesranya ‘Sobat’ seketika lenyap dari pandanganku. Memoriku hilang sekejap.

Aku membuka mata, perih rasanya, seperti ada setumpukan krikil terselip di sela-sela kelopak mataku yang memerah bagai iritasi, leherku pegal terganjal oleh sandaran kursi ruang kantor yang tampak tidak asing lagi bagiku, meja kerja yang dipenuhi lembaran-lembaran rupiah yang berhamburan dari dalam koper hitam intim bersama setumpukan kertas yang berserakan tidak karuan.
Kini aku tersadar dari mimpi aneh sejam yang lalu itu, sambut renunganku sesaat mengingat apa yang aku lihat dalam bunga tidurku tadi. Ku hampiri jendela kaca lantai 4 di ruang kantorku, ku lihat duniaku dengan mata terbuka, hatiku berkata ‘Ini duniaku’.
Planet bumi tercinta yang harus ku jaga dengan segala pengorbanan jiwa raga. Mereka rakyatku, abdi yang harus aku pertanggung jawabkan atas kepercayaannya, merekalah raja tertinggi di negeri bahkan di dunia ini, akan aku genggam erat kepercayaan mereka terhadapku selama ini.
Perlahan aku menoleh ke arah meja kerjaku yang acak-acakan. Dengan segala kerendahan hati, ku urungkan niatku untuk memperkaya diri, ku kembalikan harkat, derajat, dan martabat mereka sebagai hak mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat

Minggu, 25 Januari 2015

Jauhi sikap sombong

Jauhilah Sikap Sombong
Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak
manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺑُﻌِﺜْﺖُ ﻟِﺄُﺗَﻤِّﻢَ ﺻَﺎﻟِﺢَ ﺍﻟْﺄَﺧْﻠَﺎﻕِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib
Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)
Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang
luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran
dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki
akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela.
Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian
bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak
yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus
dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong .
Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di
atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain.
Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan
memandang dirinya berada di atas orang lain.
(Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet.
Daar Ibnu Jauzi)
Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻻَ ﺗُﺼَﻌِّﺮْ ﺧَﺪَّﻙَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤْﺶِ ﻓِﻲ ﺍﻟﻸَﺭْﺽِ ﻣَﺮَﺣﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻻَ
ﻳُﺤِﺐُّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺨْﺘَﺎﻝٍ ﻓَﺠُﻮْﺭٍ {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. ” (QS. Luqman:18)
Allah Ta’ala berfirman,
ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻜْﺒِﺮِﻳﻦَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang
menyombongkan diri .” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺃَﻟَﺎ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠَﻰ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻞُّ ﻋُﺘُﻞٍّ ﺟَﻮَّﺍﻅٍ ﻣُﺴْﺘَﻜْﺒِﺮٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka?
Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar,
tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong) .“ (HR.
Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
Dosa Pertama Iblis
Sebagian salaf menjelaskan  bahwa dosa pertama kali
yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah
Ta’ala berfirman,
ﻭَﺇِﺫْ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﺍﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻷَﺩَﻡَ ﻓَﺴَﺠَﺪُﻭﺍ ﺇِﻻَّ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﺃَﺑَﻰ ﻭَﺍﺳْﺘَﻜْﺒَﺮَ
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ {34}
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka
sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
(sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang
kafir“ (QS. Al Baqarah:34)
Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada
Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah
berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya
diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari
tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali
terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada
Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at
Tauqifiyah)
Hakekat Kesombongan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam , beliau
bersabda,
ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ﻣِﻦْ ﻛِﺒْﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻥَّ
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛَﻮْﺑُﻪُ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻭَﻧَﻌْﻠُﻪُ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺟَﻤِﻴﻞٌ
ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝَ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮُ ﺑَﻄَﺮُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻏَﻤْﻂُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada
seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang
yang suka memakai baju dan sandal yang bagus? ”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan
menyukai keindahan. Sombong adalah menolak
kebenaran dan meremehkan orang lain. “ (HR. Muslim
no. 91)
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi
larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri
kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak
kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi,
II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)
Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap
al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini
diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pada hadist di atas dalam sabda beliau, “ sombong
adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan
orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan
menolak dan berpaling darinya serta tidak mau
menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni
merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang
orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya
lebih dibandingkan orang lain. ( Syarh Riyadus
Shaalihin , II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al
‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)
Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap
kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap
orang yang menolak kebenaran maka dia telah
sombong disebabkan penolakannya tersebut. Oleh
karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima
kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para
rasul ‘alaihimus salaam .
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara
keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di
neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh
rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan, dia
bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia
menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah
terangkan dalam firman-Nya,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺠَﺎﺩِﻟُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺀَﺍﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺳًﻠْﻄَﺎﻥٍ ﺃَﺗَﺎﻫُﻢْ ﺇِﻥ ﻓِﻲ
ﺻُﺪُﻭﺭِﻫِﻢْ ﺇِﻻَّ ﻛِﺒْﺮٌ ﻣَّﺎﻫُﻢ ﺑِﺒَﺎﻟِﻐِﻴﻪِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ
ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮُ {56}
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan
tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada
mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan
hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka
sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah
perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha
Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)
Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian
al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan
akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak
mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya
tersebut.
Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki
tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul
shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa
pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali
kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya,
yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam . Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya,
dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu
Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet
Daarul Kutub ‘Ilmiyah)
Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran
adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman
Allah ‘Azza wa Jalla ,
ﻭَﻣَﺎﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻻَﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥ ﻳَﻜُﻮﻥَ
ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻼَﻻً
ﻣُّﺒِﻴﻨًﺎ {36}
“Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin
perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka .” (QS. Al-
Ahzab: 36)
ﻓَﻼَ ﻭَﺭَﺑِّﻚَ ﻻَﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤَﻜِّﻤُﻮﻙَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺷَﺠَﺮَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳَﺠِﺪُﻭﺍْ
ﻓِﻲ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺣَﺮَﺟًﺎ ﻣِّﻤَّﺎ ﻗَﻀَﻴْﺖَ ﻭَﻳُﺴَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ {65}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim
terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An Nisaa’:
65)
Sombong Terhadap Makhluk
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong
terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan
merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang
bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya
lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri
sendiri membawanya sombong terhadap orang lain,
meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan
mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺑِﺤَﺴْﺐِ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻘِﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia
menghina saudaranya sesama muslim ” (H.R. Muslim
2564). ( Bahjatu Qulubill Abrar , hal 195)
Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di
antaranya adalah sombong dengan pangkat dan
kedudukannya, sombong dengan harta, sombong
dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu
dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan
kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih
dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan
tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang
memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan,
bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah
nikmat dari Allah Ta’ala . Jika Allah berkehendak,
sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-
kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak
memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong
terhadap orang lain? Wallahul musta’an.
Hukuman Pelaku Sombong di Dunia
Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai
berikut ,
ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺃَﻛَﻞَ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺑِﺸِﻤَﺎﻟِﻪِ
ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﻛُﻞْ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻚَ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﻻَ ﺃَﺳْﺘَﻄِﻴﻊُ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻻَ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ ‏» . ﻣَﺎ
ﻣَﻨَﻌَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮُ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻤَﺎ ﺭَﻓَﻌَﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻓِﻴﻪِ .
“A da seorang laki-laki makan di samping Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut
malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda,
“Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena
sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke
mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).
Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan
perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam . Dia dihukum karena
kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat
tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya
terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi
orang yang sombong.
Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap
tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan
sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur
Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
ﻭَﻋِﺒَﺎﺩُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻤْﺸُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻫَﻮْﻧًﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺧَﺎﻃَﺒَﻬُﻢُ
ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠُﻮﻥَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺳَﻠَﺎﻣًﺎ
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah
orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan
rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang
baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda,
ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻭْﺣَﻰ ﺇِﻟَﻲَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻮَﺍﺿَﻌُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺨَﺮَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺣَﺪٍ ﻭَﻟَﺎ
ﻳَﺒْﻎِ ﺃَﺣَﺪٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺣَﺪٍ
‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar
kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun
yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat
aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣَﺎ ﻧَﻘَﺼَﺖْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻭَﻣَﺎ ﺯَﺍﺩَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺑِﻌَﻔْﻮٍ ﺇِﻻَّ ﻋِﺰًّﺍ ﻭَﻣَﺎ
ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻻَّ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ .
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada
orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan
Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak
ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena
Allah, melainkan Allah akan mengangkat
derajatnya . ” (HR. Muslim no. 2588)
Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat
seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,
ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺮْﻓَﻊِ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu
beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).
Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah
sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara
total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah
Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah
dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’
terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati,
memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda,
dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap
sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan
manusia.  ( Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)
Tidak Termasuk Kesombongan
Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap
sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang
bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian
dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk
kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan
bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan
selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan
bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu
termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah,
karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-
Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-
Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.(
Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)
Kesombongan yang Paling Buruk
Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata,
“Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang
menyombongkan diri di hadapan manusia dengan
ilmunya , merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang
dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat
ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut
ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan
hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan
terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus
memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu
introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari
hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan
akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk
membanggakan diri dan meraih kedudukan,
memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta
membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal
ini merupakan kesombongan yang paling besar . Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar
dzarrah (biji sawi) . Laa haula wa laa quwwata illaa
billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li Ibni al ‘Utsaimin hal.
75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)
Pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah
Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya
kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa
nabiyyinaa Muhammad.
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id